Subscribe RSS
Ramadhan, Kesabaran dan Dakwah Sep 11

Jamaah jumah yang dimuliakan Allah marilah kita selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita.  Selalu istiqamah dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan dalam menjauhi semua laranganNya.

Bulan Ramadhan disebut sebagai bulan kesabaran, bulan keberkahan, dan bulan ampunan.  Pada bulan Ramadhan kita dituntut untuk bersabar, menjaga lisan, tidak marah-marah dan mengucapkan kata-kata kotor serta menahan diri dari emosi, bahkan ketika ada ada mengajak berkelahi Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita untuk mengatakan: aku sedang berpuasa.

Ketika dalam bulan-bulan biasa kita dituntut untuk bersabar menghadapi berbagai macam godaan, maka pada bulan Ramadhan ini kita dituntut untuk lebih bersabar lagi.  Berbagai cobaan ada di hadapan kita saat ini, baik yang bersifat individu maupun menyangkut seluruh kaum muslimin secara umum.  Sebut saja bencana yang saat ini menimpa, seperti gempa bumi yang baru saja menimpa kaum muslim di beberapa tempat yang terjadi dalam bulan Ramadhan.  Ini menuntut kesabaran korban untuk menerima sebagai qadha dan cobaan Allah SWT.  Juga menuntut kesabaran yang tidak menjadi korban untuk membantu saudaranya yang sedang terkena musibah.

Di belahan lain di bumi ini, di Uighur,  pihak berwenang Cina di Provinsi Xinjiang telah mengeluarkan pengumuman bahwa setiap warga atau pekerja Uighur apabila ditemukan tidak makan siang selama bulan Ramadhan bisa kehilangan pekerjaan mereka.  Ini adalah bagian dari kampanye pemerintah daerah di Xinjiang, tempat kelompok etnis muslim Uighur, untuk memaksa orang-orang Uighur agar tidak melakukan ritual keagamaan mereka selama bulan puasa Ramadan.  “Gratis makan siang, teh, dan kopi-itulah yang disebut otoritas Xinjiang sebagai ‘Layanan dari pemerintah’ atau ‘Tunjangan Hidup’—sedang ditawarkan di departemen pemerintah dan perusahaan.  Tetapi sebenarnya merupakan siasat yang digunakan untuk mencari tahu siapa yang sedang berpuasa, “kata Dilxat Raxit, juru bicara Kongres Uighur Dunia, berbicara kepada The Epoch Times.

Pemilik restoran muslim dipaksa untuk menandatangani dokumen untuk tetap buka dan terus menjual alkohol selama bulan Ramadhan atau lisensi yang mereka miliki dicabut, katanya.  Imam di masjid juga dipaksa untuk berkhutbah kepada orang lain bahwa puasa adalah “kegiatan feodal” dan berbahaya bagi kesehatan, kata Dilxat.  Jika tidak, sertifikasi agama mereka akan dibatalkan.

Di negeri kita Indonesia, umat Islam, selain sedang diuji kesabarannya dalam menjalani hari-hari puasanya sebulan penuh, juga sedang diuji kesabarannya menghadapi fitnah akibat isu terorisme yang akhir-akhir ini sengaja dimunculkan kembali, diekspos terus-menerus dan dikaitkan dengan Islam dan kaum Muslim. Ujian ini terutama menimpa para pengemban dakwah, baik individu maupun lembaga dakwah (pesantren).  Pengkaitan terorisme dengan Islam telah menyeret banyak pihak untuk mencurigai orang-orang yang ikhlas berdakwah untuk Islam.  Setiap hal yang ada simbol-simbol Islam dicurigai.  Orang yang berbaju gamis dan berjenggot dicurigai, bahkan di banyak tempat sampai terjadi penangkapan dan intimidasi oleh warga dan aparat akibat blow up media dan pernyataan pejabat yang terus menerus mengaitkan terorisme dengan Islam.

Isu terorisme selalu ditanggapi dan ditangani secara lintas negara dan dikaitkan dengan Islam.  Bahkan sampai muncul perintah untuk mengawasi aktivitas dakwah dan ceramah pada bulan Ramadhan.  Padahal selama ini belum pernah terbukti hubungan antara tindakan terorisme dengan Islam, termasuk peledakan WTC, 11 September 2001.  Bahkan banyak analis AS sendiri yang mencurigai peledakan ini sebagai konspirasi pemerintah AS sendiri.  Karena Islam memang tidak pernah mengajarkan cara-cara kekerasan dalam berdakwah.  Kalau pun ternyata pelakunya kebetulan muslim tentunya tidak serta merta itu merupakan bagian dari ajaran Islam.  Sebagaimana ketika banyak kasus korupsi yang pelakunya adalah para alumni universitas terkemuka di negeri ini atau bahkan lulusan AS, bukan berarti kampus di mana koruptor itu belajar mengajarkan korupsi.

Masalah ini diperparah dengan ungkapan-ungkapan orang-orang liberal dan yang tidak suka dengan Islam dengan tuduhan yang berlebihan.  Bahwa Al Quran dan pesantren memang mengajarkan kekerasan dan mendorong terjadinya perpecahan NKRI.  Mereka seolah lupa bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran para ulama’ dan kyai serta pesantren yang turun berperang menghadapi penjajah.  Mereka juga seolah lupa atau pura-pura lupa bahwa yang menyebabkan rakyat Indonesia saat ini menderita dengan tingginya harga BBM, listrik dan air dan rendahnya serapan tenaga kerja adalah akibat kebijakan yang dipaksakan oleh negara-negara kapitalis untuk menswastanisasi BBM, listrik dan air serta barang tambang.  Emas di Timika yang seharusnya bisa mensejahterakan rakyat yang seharusnya dikelola oleh negara berdasar amanah UUD 45 justru dieksploitasi oleh Freeport milik AS yang selama ini disanjung sebagai “pahlawan” pemberantas “terorisme”.  Demikian pula minyak di blok Cepu dan di tempat lain yang justru dieksploitasi asing

Lebih Eronis lagi, AS dan Israel yang selama ini melakukan tindakan kekerasan tanpa alasan yang bisa diterima akal sehat yang telah menewaskan jutaan kaum muslim di Irak, Afghanistan dan Palestina yang bahkan hingga saat ini terus berlangsung, yang notabene itu adalah kebijakan resmi negara yang selama ini mengusung kapitalisme, tidak pernah dituduh apalagi diadili sebagai terorisme berkaitan dengan tindakan biadabnya.  Bahkan tindakan AS ini tidak hanya terjadi di negeri muslim saja tetapi juga dilakukan di Vietnam dan negara-negara lain.  Dan ini berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu.

Jamaah jumat yang dimuliakan Allah, di sinilah pentingnya kesabaran kita menghadapi kondisi yang ada.  Hanya saja patut dicatat bahwa kesabaran tidak identik dengan menyerah begitu saja.  Allah dan RasulNya memerintahkan setiap muslim untuk tetap sabar dan selalu menjalankan kewajiban meskipun sedang menghadapi ujian.  Kita harus bersabar dalam mendakwahkan dan menyadarkan Islam agar umat mengerti bahwa Islam mengharmkan dakwah dengan kekerasan, sekaligus menyadarkan bahwa berkawan dengan orang atau negara yang nyata-nyata memusuhi Islam adalah haram.  Kita harus merapatkan barisan untuk kesatuan kaum muslimin agar tidak mudah diceraiberaikan musuh-musuh Islam.

Allah SWT telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.  Ali Imran: 200

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3) أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ أَنْ يَسْبِقُونَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (4) مَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ اللَّهِ فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لَآتٍ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (5) وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?  Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.  Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu.  Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.  Dan barang siapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. Al Ankabuut: 2‑6.

Insya Allah dengan kesabaran kita dalam mendakwahkan Islam kesadaran ummat tentang Islam akan semakin meningkat dan Islam sebagai Rahmatan lil alamin akan terwujud.  Maka selayaknyalah pada bulan kesabaran ini kita menjalankannya dengan baik.  Semoga keridhaan, rahmah, maghfirah dan surga Allah SWT akan kita dapatkan.

بارك الله فى القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الأياة وذكر الحكيم

أقول قولي هذا لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم

Add This! Blinklist BlueDot Connotea del.icio.us Digg Diigo Facebook FeedMeLinks Google Ask.com Yahoo! MyWeb Netscape Netvouz Newsvine reddit Simpy SlashDot StumbleUpon Technorati ThisNext
Kategori: Ke-Islam-an  | Tags:
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Leave a Reply » Log in

*